1
Anggap Saja Pengantar
"Halo, iya baru aja bangun, Beb!"
Jo masih tiduran di atas ranjangnya.
Cahaya matahari menerobos dari sela-sela jendela kaca di ruangan yang cukup luas itu.
"Kayaknya kita udah nggak cocok lagih, Jo," kata Dewi dari seberang sana dengan suara khasnya yang mendesah dan selalu banyak akhiran "h".
"Maksudnya nggak cocok gimana?" Jo lalu duduk bersandar pada sebuah bantal dan ranjangnya.
"Terlalu banyak hal-hal yang nggak bisah kitah samain, Jo," kata Dewi lagi ujung telponan nan jauh di sana.
"Beb, namanya juga LDR, jadi harus sabar. Aku akan sering-sering telepon kamu kok, Beb," kata Jo lagi lirih.
"Enggaklah, kamuh nggak akan bisah nganterin akuh belanjah, kamuh nggak ngapelin akuh, kamuh nggak nganterin akuh ke salon, kamuh nggak ngajak akuh makan malam, terus ngapain? Masak aku suruh shooping samah handphone? Suruh makan samah handphone? Suruh malam mingguan samah handphone?" kata Dewi lagi sesenggukan nangis tapi suaranya tetep aja penuh dengan desahan huruf "h".
"Pokoknya nggak deh, Jo. Makasih yah. Kitahhh putushhh....."
Tut... tut... tut....!
"Halo? Halohh?? Dew... Dewihh? Ha-lohhhh?" Jo mencoba menghubungi Dewi lagi tapi tidak bisa, handphone sudah dimatikan.
"Bang! Bakso satuh yah! Nggak pake kolhhh!" celetuk Dino, adiknya Jo, yang ternyata sedari tadi duduk di lantai sambil menggambar.
Jo kaget. "Emang bakso pake kol? Sejak kapan elo disini?!" hardik Jo sambil menoleh ke arah adiknya.
"Sejak Abang masih ngiler dan meluk guling," jawab Dino sambil terus menggambar.
"Ya ampun, Dino! Kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu! Itu namanya sopan santun!" kata Jo mengingatkan adiknya.
"Abangku sayang, Dino dan Mama tadi pagi ketuk-ketuk. Abang aja nggak bangun. Nah karena Mama harus ke pasar dan pasar itu bukan level gue sebagai cowok, ya gue dititipin di sini ini. Di kamar Ababng. 'Kan ini hari minggu. 'Kan nggak seru kalau hari Minggu harus ke pasar. Emang gue cowok apaan ke pasar?" kata Dino panjang lebar.
Dino adalah adik satu-satunya Jo. Dino masih kelas empat SD, cukup nakal, iseng, dan tentu saja cerdas.
"Terus? Elo nguping pembicaraan gue?" tanya Jo sambil kembali tidur.
"Nggak sih. Cuma mendengar pembicaraan Abang secara tidak sengaja," balas Dino
"Serah elo deh!" Jo marah.
"Cieh....baru putus cinta. Marah ni yes." Dino menggoda
"Belum waktunya kamu tau soal cinta!" kata Jo sambil membenamkan wajahnya di bantal.
"Kasihan deh Abang, nggak ada lagi yang telepon, handphone pasti jadi sepi deh! Nggak bisa lagi... have a nice dream, Bebh, loph youh, loph youh." Dino menggoda kakaknya lagi sambil menirukan gaya bicara Dewi yang suka banget pake huruf "h" di ujung kata-katanya.
Jo tidak menanggapi ejekan adiknya. Dulu waktu Dewi masih di Jakarta, Dewi sering banget main sama Dino di rumah. Dan jika telepon, Dewi memang selalu bersuara mendesah gitu.
Ruangan menjadi hening. Dino keluar kamar setelah itu. Jo mencoba memejamkan matanya kembali. Lalu sesaat kemudian, Dino masuk ke dalam kamar, Dia membawa posternya Agnes Monica. Poster itu lalu di tempel di dinding yang tidak jauh dari ranjangnya Jo. Lebih tepatnya sejajar dengan wajah Jo yang di benamkan di bantal.
"Bang! Bang! Liat deh!" Dino mencoba membangunkan Jo sambil menunjukkan poster yang sudah di pasangnya.
"Ngapain lo pasang di kamar gue? Bawa keluar sana!" Jo geram
"Kan luamayan, sebelum tidur, Aang teteap bisa bilang... have a nice dream, Beb, lop you, sambil lihat posternya Agnes. 'Kan mending, Bang, ketimbang ngomongnya cuma sama handphone? Iya 'kan?"
"Dinooo!!!!" Jo teriak lalu melempar adiknya dengan bantal.
LDR? Ya mungkin banget terjadi di zaman sekarang. Long Distance Relantionship, pacaran jarak jauh, itu lagi musim. Tapi ya gitu deh, semakin canggih gadget, bisa jadi satu orang itu bisa LDR-an sama dua ampai lima orang. Nah seru 'kan? Resikonya sih sama aja. Salah satunya, LDR itu biasanya nggak bisa tahan lama karena segala sesuatunya tergantung handphone. Kalau pulsa tiba-tiba habis? Putus komunikasi, putus juga cinta. Kalu tiba-tiba handphone ilang, ilang komunikasi, ilang juga cinta. Terus siapa sih yang betah lama-lama sama handphone doang? Pacaran itu butuh kasih sayang lebih, butuh cinta yang lebih, butuh perhatian lebih, dan hal-hal lain yang lebih juga. Kalau cuma sekedar kalimat-kalimat via handphone, kayaknya juga nggak betah lama. Ya, begitulah Jo dan Dewi pacarnya yang LDR itu. Kisahnya jelas, cewek butuh lebih dari sekedar telepon atau SMS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar