karya : Endik Koeswoyo
Sejak putus dengan Dewi, Jo memilih untuk sendiri. Tetapi namanya juga cowok, akhirnya nyangkut juga cintanya pada Rina, gadis ayu yang sebenarnya adiknya temannya sabat Jo. Pokoknya mereka dikenalkan di sebuah kafe oleh temannya sahabatnya Jo. Gitu deh singkatnya. Rina bau masuk kuliah semester awal. Dia juga baru saja putus sama pacarnya yang sudah pacaran sejak dua tahun yang lalu, waktu
mereka SMA. Perkenalan singkat di kafe itu akhirnya berujung ke hati karena mereka sama-sama jomblo. Berawal dari saling curhat akhirnya mereka jadian.
Sebulan pertama, semu berjalan lancar, tidak ada keributan apa pun. Bulan kedua juga baik-baik saja, mereka lebih mengenal satu sama lain. Bulan ketiga mulai ada perselisihan karena Rina menuntut Jo untuk menjadi PACAR SIAGA: SIap Antar jaGA
Karena selain kuliah, Jo juga bekerja paruh waktu, dia belum mampu menjadi pacar SIAGA. Dia baru menjadi pacar setengah SIAGA. Beberapa kali Jo tidak bisa menjemput Rina di kampus, atau menunggui Rina yang sedang sibuk ngerumpi di kafe sama teman-teman gengnya. Tapi eh tapi, kalau di logika sih, siapa aja nggak bakalan bisa deh jadi pacar siaga, kecuali tuh cowok pengangguran gitu terus duit bokapnya segudang nggak kepake, jjadi bisa ngapain aja semaunya
"ngapain sih, Say, telat banget jemputnya?" tanya Rina setelah menunggu lima belas menit di kafe sore itu.
"Maaf, Say, macet," kata Jo pelan.
"Macet lagi, macet lagi jadi alesan! Rian tuh nggak pernah telat jemput aku! Jangan-jangan mobilmu mogok lagi ya?!" celetuk Rina,
Rian tuh mantannya Rina. Ya iyalah Rian nggak pernah telat, Rian 'kan nggak kerja, terus mereka pacaran juga waktu SMA. Coba kalo Rina dan Rian pacaran pas zaman kuliah terus mereka beda kampus. Sumpah deh pasti sering telat jemput. Jakarta macetnya udah nggak ketulungan.
"Iya, Rian mobilnya bagus dan nggak pernah mogok. Tapi gue yakin Rian nggak bakalan berani jual mobilnya," celetuk Jo sedikit emosi, siapa saja dibanding-bandingkan pasti emosi dong ah.
"Maksudnya apa?" tanya Rina bingung.
"Cowok ganteng, mobil bagus juga percuma, Say, kalo STNK mobilnya masih nama bokapnya." Jo masuk mobil, tidak membukakan pintu mobil buat Rina seperti biasanya.
Rina ceingukan, merasa Jo marah karena dia membandingkan Jo dengan Rian. Rina buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Kamu marah ya, Say? Maaf ya, aku emosi," kata Rina lirih mencoba memasang wajah melas.
"Iya, santai saja," kata Jo pelan sambi. menghidupkan mesin mobilnya.
Sepanjang jalan yang macet itu, Jo memilih untuk diam. Beberapa dia menghela napas panjang karena memang tidak menyenangkan. Tapi wajar dong ya Jo ngambek. Cowok mana sih yang nggak sebal bin dongkol ketika ceweknya membandingkan dia sama cowok lain? Apalagi sama mantan. Kalau membandingkannya sama selebriti sih nggak masalah, namanya juga selebriti. Lah inii membandingkan sama mantan, kalau mantan lebih baik kok bisa dia jadi mantan? Aneh 'kan ya?
"Say, jangan marah dong," kata Rina lagi.
"Enggak, aku nggak marah kok," kata Jo sambil tetap fokus pada kemudinya.
Rina diam, kemudian dia menjuhut iPhone milik Jo yang tergeletak di dashboard, Jo tidak pernah melarang Rina untuk melihat handphone miliknya walau Rina nggak pernah ngasih izin Jo untuk menyentuh handphone miliknya. Cewek memang egois gitu kali ya? Cewek bisa dan mau dengan bebas memegang barang pribadi cowok, terus kalau barang pribadinya di pegang ngambek, marah, bisa-bisa main gampar, Iya kali ya? Seperti biasa, Jo memilih fokus pada kemudinya. Hampir tiga puluh menit mobil itu tidak bergerak.
"Mas, turunin aku, Mas!" teriak Rina tiba-tiba.
Jo kaget, dia tengok kanan dan tengok kiri. Tidak ada apa-apa, cuma kendaraan yang setengah berhenti.
"Ngapain?" tanya Jo setelah memastikan semua baik-baik saja.
"Turunin aku! Turunin! Kamu jahat! Nih lihat!" Rina menyodorkan ponsel milik Jo.
"Apaan sih?" Jo menjuhut ponselnya, lalu membaca sebait pesan singkat.
Ayank, beliin pulsa di nomor baru aku ini ya. Aku lagi ada urusan penting, nanti aku telepon kamu ya agak malaman dikit, miss you....
Pesan singkat itu tentu saja membuat Jo kaget. Dia tidak mengenal nomor siapa yang mengirimkan pesan itu, Jo tidak tahu harus berkata apa selain menjelaskan apa adanya pada Rina kekasihnya,
"Aku nggak tahu itu SMS dari siapa! Coba ditelpon deh atau ditanya siapa."
"Buat apa? Sudah jelas manggilnya AYank! Mau apa lagi, Mas? Turunin aku, Mas! Turunin!"
"Ntar deh kita bahas sampe rumah. Masak kamu turun di jalan gini? Mau naik apa?
"Ya udah, kamu yang turun kalau aku nggak mau kamu turunin!"
"Emang bisa nyetir mobil?"
"Enggak! Pokoknya aku nggak mau sama kamu lagi! Pengkhianat kamu, Mas!"
"Ya udah deh terserah, kalau nggak mau di jelasin nanti. Soalanya aku juga nggak tahu itu siapa yang SMS. Bisa jadi itu SMS penipuan yang kayak 'Mama minta pulsa, atau Papa minta pulsa, atau Nenek minta pulsa, atau SMS apalah yang jelas aku nggak kenal nomor itu, Say. Nggak kenal." Jo sekali lagi menjelaskan.
Rina tidak memberikan komentar apa pun. Rina memilih untuk diam, sambil menyeka air matanya, Jo melirik Rina sambil menelan ludah pahit. Tidak tahu harus berbuat apa. Mobil melaju pelan, pelan namun pasti menuju ke rumahnya.
"Anterin aku pulang!" kata Rina lirih.
"Iya bentar. Aku ajak Dino dulu, kasihan dia di rumah sendirian." Jo turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah.
Rina turun dari mobil lalu duduk di teras. Tak lama kemudia, Jo keluar dari dalam rumah
"Nunggu Dino bentar," kata Jo pelan sambil mencoba menghubungi nomor yang baru saja SMS, tapi tidak ada sahutan dari seberang sana. "Ini nomernya aktif tapi tidak diangkat. Coba deh kamu telepon." Jo menyodorkan handphone pada Rina.
"Nggak perlu. Bagiku SMS itu sudah cukup, Mas. Hubungan kita selesai," kata Rina pelan.
"Say! Sumpah aku nggak kenal! Coba deh hubungi dulu, siapa tahu SMS nyasar." Jo mencoba menghubungi nomor tersebut berkali-kali.
"Enggak perlu! Kita putus, Mas! Putus!" lalu Rina melangkah pergi, meninggalkan Jo.
"Kamu mau ke mana? Tunggu sebentar aku antar pulang!" Jo berusaha menahan Rina.
"Enggak! Aku bisa naik taksi!" Rina lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan rumah Jo.
"Rin, dengar dulu! Dengar, Rin! RIn!" Jo hanya bisa menatap taksi itu berlalu di hadapannya.
"Sabar ya, Bang," kata Dino yang berdiri di balik pagar rumah.
"Ah! Kamu lagi! Kenapa sih saat aku diputusin selalu ada kamu?!" Jo marah sam adiknya.
"Biar kalo gede nanti Dino bisa tahu rasanya diputusi, Bang. Semua pasti ada hikmahnya 'kan?" sahut Dino polos.
"Arghh!" Jo masuk ke dalam halaman rumah.
Jo lalu mengirim sebait pesan singkat
Semoga Anda puas! Gara-gara SMS ayank minta pulsa, gue diputusin sama pacar gue! Kupret lo!
Dino mengikuti langkah kakaknya menuju teras rumah. Jo lalu duduk di teras. Menyandarkan tubuh letihnya di tiang beton teras rumahnya.
Mending ayank diputusin, kemarin ada istri minta cerai gara-gara saya SMS yang sama. Sabar ya, Bro, namanya juga usaha....
Jo kaget kepalang membacaa balasan SMS itu. Lalu mencoba menghubungi Rina, tetapi Rina sudah tidak mau menerima telepon dari Jo. Jo mencoba SMS, tapi tetap saja tidak di respons. Hubungan mereka berakhir gara-gara SMS penipuan ayank minta pulsa. Apes banget deh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar